Jumat, 27 Agustus 2021

Sambutan Ka Kwarnas Hari Pramuka ke-60 Tahun 2021

Yang saya hormati,

  1. Kakak-kakak Pimpinan Kwartir Nasional, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang dan Kwartir Ranting, beserta para Andalan dan seluruh staf;
  2. Kakak-kakak Pengurus Mabigus dan Gugus Oepan yang berada di Kedutaan Besar RI dan Konsulat Jenderal RI di luar negeri;
  3. Kakak-Kakak Pelatih di Pusat-pusat Pendidikan dan Latihan Gerakan Pramuka, serta Para Pembina di Gugus Depan di seluruh Indonesia, yang saya banggakan;
  4. Adik-adik Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega, yang Kakak cintai.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya, Salam kebajikan, dan Salam Pramuka,

Hari ini, 14 Agustus 2021, merupakan hari yang disambut dengan suka cita oleh para anggota Gerakan Pramuka, karena organisasi kepramukaan kita genap berusia 60 tahun. Sekalipun sesungguhnya, gerakan pendidikan kepramukaan di Indonesia berusia jauh lebih tua, namun sejak 60 tahun lalu kita tidak lagi terpecah- pecah, melainkan menyatu dalam satu wadah yang disebut Gerakan Pramuka. Karenanya, peringatan Hari Pramuka adalah wujud dari rasa syukur kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah persatuan dalam wadah tunggal, Gerakan Pramuka.

Dari sejarah yang telah banyak dipaparkan, kita tahu bahwa gerakan pendidikan kepramukaan masuk ke Indonesia pada 1912. Pada saat itu, Indonesia masih dalam jajahan bangsa lain. Namun semangat kemerdekaan, membuat para pramuka yang saat itu disebut pandu, ikut pula berperan mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, ternyata masih terdapat cukup banyak organisasi kepramukaan di negara itu. Hal tersebut yang menyebabkan Presiden Soekarno dibantu Pandu Agung Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan sejumlah tokoh lainnya, menyatukan dalam wadah Gerakan Pramuka.

Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, ditetapkan bahwa Gerakan Pramuka merupakan satu- satunya wadah gerakan pendidikan kepramukaan di Indonesia.

Kakak-kakak dan adik-adik yang saya banggakan,

Walaupun kita bergembira dapat mengikuti peringatan Hari Pramuka dan sekaligus perayaan 60 Tahun Gerakan Pramuka pada saat ini, tetapi pandemi Covid- 19 yang telah berlangsung sejak setahun lalu, membuat kita harus disiplin menahan diri, prihatin, dan berusaha membantu menanggulangi pandemi tersebut.

Itulah sebabnya, tema Hari Pramuka dan peringatan 60 Tahun Gerakan Pramuka adalah “Pramuka berbakti tanpa henti dalam memasuki adaptasi kebiasaan baru dengan kedisiplinan dan kepedulian nasional”. Sementara slogan yang merupakan inti tema tersebut adalah “Pramuka Berbakti Tanpa Henti”.

Keputusan Kwartir Nasional No. 094 Tahun 2021. Hal ini bukan berarti pada bulan-bulan lain Pramuka tidak mengadakan kegiatan bakti kepada masyarakat. Sudah jelas slogan kita “Berbakti Tanpa Henti”. Namun khusus di bulan Agustus, semua kegiatan bakti tersebut ditingkatkan, dilipatgandakan dan dimasifkan.

Kondisi pandemi Covid-19 yang masih terus mengkhawatirkan, telah membuat banyak orang terkena dampaknya. 8egitu pula di lingkungan Gerakan Pramuka. Banyak kegiatan yang terpaksa terhenti, termasuk kegiatan latihan tatap muka di gugusdepan- gugusdepan Pramuka.

Namun, kita tak boleh menyerah dan berputus asa. Justru tantangan yang ada harus kita sikapi dengan semangat seorang pramuka untuk pantang berputus asa dan tetap rela menolong serta tabah.

Kakak-kakak dan adik-adik yang saya hormati,

Segera setelah pandemi Covid-19, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka telah membentuk satuan tugas untuk membantu menanggulangi Covid-19. 8erbagai hal telah dilakukan, mulai pembagian alat pelindung diri, melaksanakan vaksinasi untuk anggota Gerakan Pramuka, dan lainnya. Memasuki adaptasi kebiasaan baru, saya mengajak para pramuka untuk menjadi Duta Perubahan Perilaku. Diharapkan pramuka dapat memberi contoh untuk mengubah perilaku masyarakat luas agar hidup lebih sehat dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19.

Saya juga mengajak kakak-kakak dan adik-adik untuk terus berkegiatan kepramukaan, tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Salurkan kreativitas kakak-kakak dan adik-adik dengan membuat kegiatan kepramukaan yang tak melanggar protokol kesehatan, namun tetap dapat diikuti dengan riang gembira.

Tetap berkegiatan kepramukaan akan menumbuhkan semangat, yang juga meningkatkan imunitas kita. Hal yang juga penting dalam menjaga kesehatan kita, terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

Mari kita peringati 60 Tahun Gerakan Pramuka ini dengan tetap bersemangat, tetap berusaha hidup sehat dengan mematuhi protokol kesehatan, dan tetap berusaha membantu mereka yang memerlukan pertolongan kita. Jangan pernah menyerah serta berputus asa. Melainkan kita tunjukkan bahwa pramuka dapat terus bergiat dan berbakti tanpa henti.

Sekian sambutan saya, sekali lagi saya mengucapkan selamat Hari Pramuka ke-60 Tahun 2021, semoga Pramuka kita makin berjaya.

Jakarta, 14 Agustus 2021,
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Ketua

(tertandatangani dan berstempel)

Komjen Pol (Purn) Drs. Budi Waseso

Selasa, 22 Juni 2021

MENGAPA ANAK-ANAK SUKA BERPERILAKU LEBIH BURUK KETIKA IBUNYA BERADA DI DEKATNYA?


Jawabnya akan membuat kita sedikit merasa berbeda tentang air mata (tangisan) dan amukan (tantrum).

Akhirnya kita mendapatkan jawaban untuk pertanyaan ini, dan itu ternyata adalah sesuatu yang baik.

Bagi seorang ibu sebaiknya tidak melewatkan ini. Alasan mengapa anak-anak ibu bersikap lebih buruk ketika para ibu mereka berada di sekitarnya? Ini sederhana.

Jika anak anda bertindak lebih buruk di depan ibunya itu berarti bahwa anda (seorang ibu) sudah menjadi ibu yang baik, dan telah melakukan pekerjaan sebagai ibu dengan benar.

Sebagai seorang ayah, harus tahu persis bagaimana anak-anak selalu dalam perilaku terbaiknya ketika mereka sedang bersama ayahnya. NAH.. drama dimulai ketika ibunya datang. Lalu mengapa mereka selalu bertindak lebih buruk di depan ibunya?

Setelah kami membaca postingan menakjubkan dari Kate Surfs, kami sangat menyukainya, kami merasa begitu banyak yang ingin kami bagi dengan kalian semua.

Jadi begini. Alasan mengapa anak-anak cerderung bersikap buruk ketika ibu mereka berada di sekitarnya. Ini sebuah teori yang indah, yang akan membuat kita semua merasa sedikit berbeda membuat kesimpulan tentang rengekan, air mata dan amukan, saya yakin:

Karena ANDA-ANDA (para ibu) adalah tempat yang aman. ANDA adalah tempat mereka bisa datang dengan semua masalah mereka. Jika Anda tidak dapat membuat sesuatu yang lebih baik, maka siapa lagi yang bisa? (menurut mereka).

Jika anak sudah berada dalam situasi yang tidak menyenangkan sepanjang hari, kemudian mereka melihat anda (ibu) datang, mereka tahu, akhirnya inilah waktu untuk melepaskan beban itu.

Itu berarti melepaskan apapun, MERENGEK, MENAGIS, dll. Lelah setelah seharian dari tempat kerja, tapi itulah pekerjaan ibu. Berikan pada mereka ekspresi tanpa hambatan, dan jadilah tempat nyaman untuk pelepasan emosional baku mereka.

Anda (ibu) belum sempat meluruskan kaki, jangan terkejut jika anda akan disambut di pintu dengan rengekan dan jeritan.

Luar biasa, pada moment ini anda (ibu) telah menciptakan ruang yang cukup aman untuk anak-anak, dan membiarkan mereka memiliki izin menjadi ALAMI.

Dan, dengan cara itu BENAR-BENAR-BENAR penting bagi anak-anak untuk menjadi alami dengan perasaan mereka, emosi mereka dan fungsi tubuh mereka.

Ketika mereka tumbuh, kita pasti ingin anak-anak kita memiliki kecerdasan yang sangat berfungsi kan? dan tampa hambatan emosional yang berarti kan?

JADI... anggaplah sikap buruk anak-anak itu sebagai pertanda baik. Semua karena anak-anak mencintai anda (ibu), mereka sudah menyimpannya selama seharian hanya untuk seorang ibu. CLEAR!
#copas dari Facebook

Minggu, 30 Mei 2021

Pramuka-Sekolah atau Sekolah-Pramuka ?


Minggu, 30 Mei 2021

Oleh Kak Helmi Maulana
Andalan Kwarcab Ciamis Bidang Pembinaan Mental & Spiritual 2020-2025

Judul yang agak sensasional—untuk tidak menyebut provokatif. Saya berusaha mengawali tulisan ini dari sejarah kelahiran Gerakan Pramuka (GP), latar belakang sosial-politik nasional dan internasional pada saat itu, dan kapan mulainya GP masuk/terintegrasi ke sekolah secara formal. Pandangan ini sarat akan pengalaman pribadi semata, bukan mewakili sikap organisasi dan kepengurusan di gugus depan, kwartir, maupun pusdiklat. 

GP yang pada mulanya organisasi kepanduan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pergerakan nasional bangsa Indonesia. Sejak sebelum PD-II hingga menjelang 1961 telah ada lebih dari 100 organisasi kepanduan. Selain tidak adanya perhimpunan resmi yang mewadahi semua organisasi, arah kegiatan yang terpaku gaya tradisional kepanduan Inggris, organisasi kepanduan yang ada pada saat itu kurang menyentuh kebutuhan bangsa. Salah satu pertimbangan lahirnya Kepres 238/1961 tentang GP yang ditandatangani oleh Djuanda, pejabat presiden saat itu, GP adalah satu-satunya organisasi yang sah mengurusi pendidikan kepanduan didirikan agar membentuk manusia pemuda Indonesia berpikir dan bertindak atas landasan “manusia-sosialis-Indonesia” dan menjadi kader yang cakap dan bersemangat dalam mewujudkan amanat penderitaan rakyat (ampera). 

Menyusul dan menguatkan keputusan sebelumnya, lahir Kepres 448/1961 tentang penganugerahan Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia kepada GP sebagai lambang perjuangan bangsa melalui pendidikan kepanduan. Keppres ini ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 14 Agustus 1961. Tanggal itu disepakati sebagai hari lahir GP, saat ini disebut Hari Pramuka.

Indonesia dengan GP ingin menciptakan organisasi yang mengurusi pendidikan luar sekolah dan pendidikan informal yang diselenggarakan oleh para orang tua sebagai pendidik awal setiap manusia. Lahirnya kebijakan yang diwujudkan dalam kiasan dan simbol-simbol kepanduan di Indonesia sebagai perwujudan jati diri bangsa Indonesia. Siaga kiasan dari perjuangan 1908, Penggalang 1928, Penegak 1945, dan Pandega mengisi kemerdekaan itu sendiri hingga seterusnya menjadi anggota dewasa yang melakukan pembinaan dan pelatihan. 

Masa awal lahirnya GP, penggunaan setangan leher tartan dan simpul turki sebagai pengikatnya, manik kayu sempat disingkirkan dari kepanduan kita. GP pernah menarik diri dari WOSM (bahkan saat itu Indonesia keluar dari PBB). Logikanya, simpel: menghindari semua hal yang berbau barat; menghilangkan kolonialisme, dan tidak boleh lupa Baden-Powell orang Inggris yang perlu “dilinggis”—sekaligus “Amerika kita setrika”. Kenapa demikian? Kita semua tahu bahwa masa itu arah politik dan ideologi bangsa Indonesia cenderung mengarah ke “kiri.”

Lahirnya GP tidak lepas dari arus politik yang dilancarkan pada masa demokrasi terpimpin sehingga semua hal diarahkan kepada menyingkirkan semua hal yang berasal dan berbau barat. Lampiran Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 menyebutkan bahwa lahirnya kepanduan GP bertujuan agar kepanduan dibebaskan dari sisa-sisa paham BP. Barulah pada masa awal pemerintahan orde baru Soeharto yang cenderung terbuka kepada barat, GP bergabung kembali dengan WOSM. Artinya, menerima kembali ajaran BP dan tidak menolak barat secara total.

Pada pertengah Agustus 1965 berangkat delapan orang perwakilan (enam dari kementerian dua dari Kwarnas) ke Republik Rakyat Demokrasi Korea untuk mempelajari pengintegrasian GP ke dalam pendidikan. Tim tersebut dipimpin langsung oleh Mendiksarbud Artati Marzuki-Sudirdjo selama dua minggu dan harus menyampaikan laporan lisan dan tertulis kepada Presiden Soekarno tentang hasil-hasil tugas mereka di Korea. Selain ibu meteri, mereka adalah Supardo, S.H. (pembantu menteri bid. teknis pendidikan); Kol. Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo (pembantu menteri bid khusus); Sutarto, M.A. (kepala direktorat pendidikan dasar dan prasekolah); Idris M.T. Hutapea (kepala direktorat pendidikan umum); Dora Rumambi (sekretaris pribadi menteri); Drs. Fuad Hassan (anggota Kwarnas); dan Dr. H. Sujono (anggota Kwarnas). Tim tersebut dilegalkan dengan Keppres Nomor 192 Tahun 1965 yang ditandatangani oleh Soekarno pada 23 Juni 1965. 

Sebagaimana UU Nomor 12 Tahun 2010 bahwa GP sebagai organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi kaum muda agar berkualitas sehingga mampu mengisi kemerdekaan dan membangun dunia yang lebih baik. GP sebagai organisasi pendidikan (bukan organisasi sosial-politik) yang keanggotaannya bersifat suka-rela, mandiri, toleran, dan bebas sara berada di luar sekolah dan di luar keluarga.

Proses pendidikan kepramukaan menggunakan sistem among dan dilengkapi delapan metode kepramukaan dikemas dengan menggunakan kiasan dasar yang bersumber dari sejarah perjuangan bangsa. Komitmen pramuka ada pada janji dwi/tri satya. Kehormatan tercermin pada dwi/dasa darma yang dilaksanakan baik dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat secara suka dan rela.

Satuan pendidikan kepramukaan berada di dua ranah: gudep dan pusdiklat.  Pusdiklat sebagai lembaga pendidikan anggota dewasa agar memiliki kompetensi dan lisensi membina di gudep. Gudep sebagai satuan pendidikan dan satuan organisasi terdepan penyelenggara pendidikan kepramukaan yang dikoordinir oleh kwartir berbasis di dua lokasi, yaitu gudep lembaga pendidikan formal (sekolah) dan gudep komunitas. 

Jumlah peserta didik meningkat secara signifikan (data pada 2018 hampir 26 juta orang) seiring diberlakukannya Permendiknas Nomor 63 Tahun 2014 tentang kegiatan eskul wajib kepramukaan bagi siswa di sekolah dasar, menengah, dan lanjutan. Saya sendiri tidak memiliki data berapa orang anggota pramuka dari gudep bebrbasis komunitas, mungkin karena saking sedikitnya tidak mudah menemukan datanya. Dari segi kuantitas, pramuka Indonesia merupakan anggota terbanyak di WOSM. 

Sampai sekarang benak kita menyimpan memori bahwa gudep berada di sekolah. Lantas, apa bedanya sekolah dengan GP? Ya itu-itu saja: pembina gudep sama dengan guru di sekolah itu, pesdiknya adalah siswa sekolah itu juga, kegiatan latihan pramuka di kelas, jarang di alam terbuka. Apalagi sudah masuk pada kurikulum sekolah, evaluasi pendidikan kepramukaan akhirnya berbasis buku lapor. Semestinya, penilaian atas hasil pendidikan kepramukaan dilaksanakan dengan berdasarkan pada pencapaian SKU dan SKK serta pencapaian nilai-nilai kepramukaan (SPG dan Pramuka Teladan). 

Saya dan beberapa pembina gudep berusaha mewujudkan idealisme itu. Hasilnya bisa Anda bayangkan sendiri, untuk tidak mengatakan gagal, saya cari cara lain. Bukan karena sekolah dan GP tidak bisa berkolaborasi, tapi, memang cengkraman sekolah dan birokrasi kedinasannya terlalu kuat terhadap gudep sehingga tidak bisa berkembang lebih jauh. Pernah juga mau mengembangkan “sekolah pramuka,” terbentur dengan legalitas, dan seterusnya. Akhirnya, saya dan teman saya itu mendirikan klub pencinta alam yang sebenarnya tujuan pendirian klub itu ingin membuat suasana gudep lebih cair lagi, lepas dari cengkraman sekolah. Anggota klub itu berasal dari berbagai sekolah, beragam umur, dan minat yang sama: pendaki gunung. Literatur yang saya gunakan tetap literatur yang biasa dipakai di GP, yaitu dua bukun BP, Scouting for Boys dan Scouting for Girls. Untuk urusan tali-temali saya merujuk kepada Book of Knots-nya Clifford W. Ashley. 

Usul saya: kwartir perlu membuat rancangan pembentukan gudep berbasis komunitas lebih gencar lagi. Gudep berbasis komunitas meliputi gudep berbasis kerwilayahan, basis agama, profesi, ormas, dan komunitas lain. Yang saya maksud gudep berbasis komunitas bukan satuan komunitas (sako). Sako merupakan himpunan dari gudep berbasis komunitas yang mempunyai kekhususan dalam: profesi, aspirasi, dan agama, karena pada. Sekolah alam yang digagas beberapa tokoh di negara ini saya kira menjadi contoh bagaimana sebuah komunitas berkumpul menyelenggarakan pendidikan berbasis alam. Sebut saja Sakola Motekar, misalnya, di Sukajadi, Ciamis, Jawa Barat adalah salah satu contoh lembaga pendidikan non-formal yang sejatinya itu adalah “pramuka baget.”

Harapan dari lahirnya gudep berbasis komunitas harus menjadi penyeimbang dan pengisi kekosongan pendidikan kepramukaan yang selama ini “terlalu sekolah.” Kurikulum GP jelas berbeda dengan sekolah. Sama halnya pramuka di luar negeri lebih banyak berasal dari gudep berbasis komunitas. Tidak mudah menjadi anggota scout di LN karena ketatnya dan kekhasan pendidikan sehingga tidak semua orang bisa dan mampu menjadi dan menjalani pendidikan kepramukaan. Mungkin itu salah satu alasan kenapa di Inggris sendiri tempat kelahiran kepanduan dunia tidak banyak anak mudanya yang masuk organisasi scout. Satu kata: kualitas harus diutamakan daripada kuantitas.

Gudep yang ada di sekolah formal bukan berati tidak berkontribusi dalam menyukseskan tujuan GP. Selama ini yang mengisi kemerdekaan dan mengharumkan nama bangsa di mata dunia adalah pramuka berasal dari gudep sekolah itu juga. Bukan pula GP tidak berkolaborasi dengan kedinasan dalam memadukan kurikulum sekolah dan kepramukaan secara proporsional. Konsep integrasi dan interkoneksi di era disruptif ini harus menjadi arus utama. Namun, pengintegrasian pendidikan kepramukaan terhadap kurikulum pendidikan formal jangan sampai memudarkan makna dan kekhasan pendidikan kepramukaan itu sendiri. 

Selama masa pandemi, sekolah libur pramuka pun libur. Inilah salah satunya kenapa pramuka tidak bisa bersinar terang di masa covid-19 ini. Pramuka terlalu rekat dengan sekolah, saatnya sekarang pramuka menjaga jarak dengan lembaga itu. Menjaga jarak bukan berarti memisahkan diri, namun berusaha mengambil jarak agar panorama masalah, fakta, dan data bisa terlihat jelas dan mampu memberikan solusi tepat sebagaimana kita memandang gunung akan menjadi lebih jelas dan indah manakala kita berada jauh darinya. Semoga.

Sumber: https://www.facebook.com/100001765926598/posts/4137153303020160/?flite=scwspnss