Selasa, 30 April 2013

Menuju Sarasehan Kepemimpinan Penegak dan Pandega Ciamis 2013 (Sebuah Prolog)


Menjadi bukti nyata bahwa kehadiran seorang pemimpin dalam setiap bentangan sejarah selalu menjadi trending topic. Seorang pemimpin –apapun tingkatannya- akan menjadi buah bibir dan menjadi sorotan publik, entah ia bersikap baik pun sebaliknya. Maka, mengapa ia menjadi buah bibir? Karena seorang pemimpin memiliki tanggungjawab yang lebih dari manusia-manusia lainnya. Semua tahu bahwa ia manusia biasa, namun pekerjaan-pekerjaan luar biasalah yang mengantarkannya menjadi seorang pemimpin.

Lalu, pertanyaan mendasar yang dihadapkan pada kita adalah mampukah kita menjadi seorang pemimpin selanjutnya, yang akan menghentak sejarah dengan kerja-kerja gemilang kita atau kita akan tetap menjadi follower dan tetap menjadi ‘manusia biasa’? pertanyaan ini jelas jawabannya, bahwa dalam setiap jiwa kita ingin menjadi bagian dari deretan orang-orang luar biasa itu, yang kita sebut sebagai pemimpin.

Hanya saja, tahukah kita berapa banyak orang-orang yang menjadi pemimpin itu? Ia hanya sedikit. Ya, sedikit saja. Maka tak heran jika Abu Bakar as-Shidiq pernah berdo’a Allahummaj’alna minal qalil ‘Ya Allah jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit’ karena ia faham betul, orang-orang luar biasa itu hanya sedikit, para pemimpin itu sedikit saja jumlahnya, para pelopor itu sedikit saja adanya, para penemu dan ilmuwan di dunia ini hanya sedikit namanya yang terpahat dalam batu sejarah.

Inilah tantangannya. Inilah seninya seorang pemimpin. Ia harus rela menjadi bagian dari orang-orang yang terasing, dianggap aneh, bahkan diberi gelar orang gila, seperti halnya Sang Nabi pembawa risalah agung al-Islam, namun pada akhirnya ia menjadi bintang paling benderang dalam ranah peradaban semesta, Subhanallah.

Sahabat Pramuka Penegak dan Pandega sekalian, jika kita menyimak kembali sejarah gerakan kepanduan ini bermula. Gerakan ini awalnya dari suatu tempat terpencil bernama Brownsea Island, Baden Powell mengumpulkan 21 orang pemuda Boys Brigade dari berbagai wilayah di Inggris untuk berkemah selama 8 hari, tepatnya tanggal 25 Juli 1907. Setahun setelah itu, maka untuk pertamakali gerakan kepanduan ini resmi berdiri, selanjutnya 10 tahun kemudian atau tahun 1918 merupakan awal golongan kepanduan bagi Rover Scout atau Pramuka Penegak dan Pandega (usia 17 tahun lebih) dengan diterbitkannya sebuah buku berjudul Rovering to Success sebagai panduan. Berarti, Pramuka Penegak dan Pandega telah ada dan tersebar ke hampir seluruh penjuru negeri selama 95 tahun. Luar biasa.

Maka, tak berlebihan kiranya jika kita menyitir bait puisi karya Chairil Anwar: “Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari … Hinga hilang pedih peri. Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Betapa bait puisi itu telah menjadi nyata, gerakan kepanduan ini telah berusia lebih dari 100 tahun, dan ia akan terus ada selama terus bergerak. Bukan jasad yang dapat hidup selama seribu tahun, tapi yang akan tetap hidup dan mengabadi adalah ide. Ya, ide.

Hanya karena ide seorang Baden Powell atas beragam pengetahuan dan pengalaman hidupnyalah yang kemudian dituangkan dalam sebuah kerja nyata, hingga saat ini kita mengenakan seragam coklat melekat dibadan. Dengan lebatan kain merah putih melingkari leher dan berjuntai didada kita. Jasad Baden Powell memang telah menyatu dengan tanah, tapi idenya membumi, tetapi gagasannya mendunia dan akumulasi kerja briliannya tetap hidup hingga saat ini. Dan jika kita membaca sejarahnya, ia hanya seorang manusia biasa. Namun, ia punya ide yang luar biasa dan ia telah melakukan kerja-kerja luar biasa pula, maka sangat wajar jika pada tahun 1920 beliau dinobatkan sebagai ‘Chief Scout of The World’ (Bapak Pandu Sedunia) yang bertepatan dengan diselenggarakanya Jambore Dunia untuk pertamakalinya, bahkan Raja George menyematkan sebuah gelar “Lord” pada tahun 1929. Maka, tak pelak ia telah menahbiskan dirinya sebagai seorang pemimpin, dengan ide yang telah didedikasikannya melalui kerja-kerja luar biasa.

Mari kita cukupkan menengok ke belakang sebagai bahan pelajaran dan cerminan, dan bukan untuk larut dalam kenangan seorang pemimpin luar biasa bernama Baden Powell. Saatnya kita menjalani realita hari ini dan mulai menatap nanar ke arah masa depan. Masa-masa yang bakal menentukan, akan menjadi siapa diri kita. Inilah sejatinya pertanyaan yang harus kita jawab. Mari kawan-kawan Pramuka Penegak dan Pandega sekalian, kita hidupkan kembali ide-ide Bapak Pandu kita, mari kita gairahkan kembali gagasan-gagasan para pemimpin yang telah merintis jalan panjang gerakan ini.

Demi menghidupkan ide tentang seorang pemimpin dalam jiwa-jiwa Pramuka Penegak dan Pandega itu telah mengantarkan kami untuk membawa kawan-kawan sekalian menuju sebuah panggung. Ya, sebuah panggung yang akan mementaskan tentang ide-ide kepemimpinan, tentang gagasan visioner untuk menegaskan jati diri seorang Pramuka Penegak dan Pandega sebagai kader pemimpin dan menempatkan Pramuka Penegak dan Pandega tidak hanya sebagai objek sebuah system kepemimpinan yang mengusung perubahan kepada kebaikan dan perbaikan (leader of change) tetapi menjadikan pula sebagai subjek, yakni berupaya mengguar kekuatan besar yang ada dalam diri kita untuk menjadi pemimpin yang membawa pesan perdamaian (messenger of peace). Panggung itu bernama “Sarasehan Kepemimpinan Pramuka Penegak dan Pandega”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar